Selasa, 17 April 2012

Jembatan Selopamioro/ Jembatan Gantung Siluk

Liburan Panjang minggu kemarin, saya sempatkan untuk mengunjungi objek wisata, yang baru saja menjadi buah bibir di kalangan teman - teman yang suka gowes alias bersepeda.
Yaa,, objek tersebut adalah jembatan gantung Selopamioro atau lebih banyak dikenal dengan Jembatan Gantung Siluk.


Sungguh diluar dugaan saya. Ternyata Kabupaten Bantul memiliki potensi wisata sepeda yang begitu memukau. Ya, Jembatan Gantung Siluk, Imogiri Bantul ini, tidak kalah dari keindahan objek wisata lain di Imogiri seperti Makam Raja - Raja Mataram, Makam Seniman, ataupun Taman Buah Mangunan.

Saya memang belum berkesempatan mengunjungi Jembatan Gantung Siluk dengan gowes bersepeda bersama - sama, namun hasrat saya untuk mengunjungi dan membuktikan keindahana alamnya sangat besar, sehingga dengan diantar oleh mas saya, sore itu saya meniti jalan Imogiri Timur, menuju Jembatan Gantung Siluk.


Saya berangkat dari Kotagede, mengikuti jalan RingRoad Selatan lurus ke barat sampai perempatan Giwangan, kemudian belok ke kiri atau arah lurus ke selatan ( inilah Jalan Imogiri Timur ). Sampai ada percabangan jalan, yang ke kiri menuju arah Pasar imogiri, maka teman - teman mengambil arah ke kanan. Hingga nanti setelah sekitar 3km dikiri jalan ada SMP Negeri 2 Imogiri ( teman - teman yang belum familiar dengan jalan ini harus sangat jeli, karena letak SMP Negeri 2 Imogiri ini tidak memangku badan jalan. Saya sendiri saja kesasar, padahal saya asli orang Jogja, hehehe ). Saat teman - teman melihat SMP Negeri 2 Imogiri di kiri jalan, maka beloklah ke kiri atau lurus ke timur, disini ada jalan aspal, silakan ambil jalan itu. Kira kira 500m sebelum jembatan Siluk. Ikuti jalan aspal tersebut, maka teman - teman akan menemukan Jembatan Gantung Siluk di kanan jalan atau sebelah selatan jalan.


( Foto 1. Akses Jalan Menuju Jembatan Gantung Siluk )

Teman - teman itulah jalur yang sebenarnya untuk menuju Jembatan Gantung Siluk. Namun, disini saya akan menceritakan pengalaman kesasar saya, pada saat itu saya benar - benar tidak melihat SMP Negeri 2 Imogiri, maka saya lurus saja, mengikuti jalan aspal, kemudian saya sampai di Jembatan Siluk.


( Foto 2. Jembatan Siluk )

Jembatan ini juga bernama Jembatan Siluk, namun bukanlah ini tujuan wisata kita. Jembatan Siluk ini ada 2 buah, disebelah kiri jembatan ini ( mohon maaf saya tidak mempunyai fotonya ) adalah jembatan asli dan sudah tidak bisa diakses karena sudah aus. Dan di sebelahnya dibangun jembatan baru sebagai jembatan pengganti, guna memudahkan perjalanan menuju Panggang, Gunung Kidul.

Saya menelusuri jalan aspal tersebut, mas saya bilang bahwasanya jika lurus makan jalanan akan menanjak dan sampai ke Panggang, Wonosari, Gunung Kidul. Saya berbelok arah, kembali lagi ke jembatan Siluk ( Foto 2. diatas ) saya bertanya ke penduduk sekitar dimana letak jembatan gantung Siluk, ada seorang bapak - bapak yang sedang menjemur jerami mengatakan lurus saja ( artinya jalan saya benar ), kemudian beliau bilang sebelum jalan Bantul - Panggang tersebut menikung, maka di sebelah kiri jalan ada akses jalan yang disemen ke arah pedesaan. Maka berbekal informasi dari bapak tersebut, saya dan mas saya melaju lagi, kembali menuju arah semula. Beberapa saat kemudian, sekitar 1km saya menemukan akses jalan desa yang dimaksud, kami berbelok ke kiri dan menelusurinya.


Jalan ini begitu... bisa dikatakan tidak terawat, maklum jalan desa, hanya di semen ala kadarnya, dan banyak terdapat batu - batuan gunung berwarna putih, jalanan pun begitu sempit, ditambah di sisi kiri kanan jalan digunakan warga untuk menjemur jerami, sehingga beberapa kali motor yang kami naiki menggilas tanpa ampun jemuran jerami warga tersebut, hehehe maaf...piss!!


Di sepanjang jalan desa itu saya duduk di boncengan mas saya dengan tidak nyaman, jalan begitu buruk, dan sempit. Kami hampir tidak melepas senyum dan permisi ke warga setempat, yang pada sore hari tersebut, banyak dari mereka yang duduk - duduk di luar rumah atau menjemur jerami.


Tapi kesemuanya tidak membuat saya jengkel ( ada sih pas awal - awalnya, hehe ), masuk terus menembus jalan desa itu sampai entah nama daerah itu apa, saya melihat pemandangan yang begitu mengagumkan, betapa tidak, rumah - rumah warga yang mungil, mayoritas dari anyaman bambu itu, berdiri asri dipangku oleh tebing batu yang menjulang gagah di belakanngya, menaungi si pemilik rumah. dari rumah satu ke rumah yang lain, dipisahkan oleh hamparan sawah - sawah nan hijau lengkap dengan gubug di pinggirnya, ada juga kebun yang ditanami berbagai palawija. bahkan, di sisi kiri jalan sawah itu begitu anggun dengan manajemen teraseringnya, menjulang dari atas perbukitan nan hijau menurun berundak - undak sampai bawah, di bawhnya para warga asyik menggembala kambing, sekadar momong anak di sore hari itu. 

( Foto 3. Terasering di sepanjang jalan desa )

Subhanallah, hanya kata itu yang berkali - kali terucap, sebenarnya saya ingin berteriak - teriak ( tapi takut di sangka gila, apalagi di desa orang, hehe ), sungguh hati saya takjub, tidak menyangka di Jogja ada tempat seperti itu, sore itu saya benar - benar tidak percaya bahwa saya bonceng motor di atas tanah Selopamioro, Imogiri, Bantul, Jogja.


Kekaguman saya tidak serta merta mengaburkan logika saya, saya merasa ini jalan kok nggak berujung ya, mana hari semakin petang saja. Walaupun saya sangat takjub dengan desa itu, namun jika ditawari menetap disana, saya harus pikir seribu kali, untuk satu dua hari mungkin enjoy, tapi menetap, haduh ngeri, lihat saja jam saya baru menunjukkan pukul 4 sore, tapi suasana desa yang alami, asri, sepi ini begitu pas menusuk tengkuk saya, ada rasa ngeri juga, bagaimana kalo malam hari disini, lengkap dengan desiran angin yang sejuk dari pepohonan di atas bukit sana, brrrr.... nggak kuku, penerangan juga remang - remang, hiiii... :-{ :-{


Saya tiga kali bertanya ke warga sekitar, mereka membenarkan arah kami tepat ke jembatan gantung Siluk, bahkan salah satu yang saya tanya adalah anak kecil yang lagi jajan, hehe.
Perjalanan tersebut saya rasa ada 20 menitan dari arah jalan utama Bantul - Panggang tadi, mungkin karena jalan desa, harus tahu sopan - santun, akses jalan yang buruk, pemandangan yang menyilaukan mata, dan ketidakyakinan kami bahwa jalan tersebut benar yang membuat sore itu perjalanan terasa panjang.
Setelah menyabarkan diri menelusuri jalan desa tersebut, akhirnya kami menemukan Jembatan Gantung Siluk di kiri jalan, hah... akhirnya setelah bersusah susah dahulu, girang kemudian. Howreey :-P


( Foto 4. Jembatan Gantung Siluk, saya tiba dari arah jalan desa yaitu arah kiri foto, dan jika menelusuri jalan yang benar, makan akan tiba dari arah kanan foto )


Disini saya melihat pemandangan yang tidak kalah luar biasa, jembatan ini menghubungkan 
antara Desa Selpamioro dengan Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.
Jembatan kuning ini berdiri gagah membentang di atas Sungai Oyo yang melintasi Bantul, sedangkan Sungai Oyo sendiri berhulu di Kabupaten Gunung Kidul atau Samudera Hindia.


( Foto 5. Sungai Oyo tampak dari atas Jembatan )

( Foto 6. Sungai Oyo tampak dari bawah Jembatan )

Saya kebetulan sampai di Objek Wisata ini pada saat matahari telah bersiap untuk singgah di ufuk barat, maka pemandangan sunset-lah yang saya nikmati di atas Jembatan Kuning yang dibangun oleh Pasukan Militer Republik Indonesia ini.




( Foto 7. Pemandangan Sore di Jembatan Kuning )

( Foto 8. Sungai Oyo di Sore Hari )


( Foto 9. Jembatan Kuning di Sore Hari )

Pemandangan di atas Jembatan Kuning ini begitu mengagumkan, bayangkan saja di bawah jembatan gantung yang membentang dari selatan ke utara ini, mengalir dengan indahnya Sungai Oyo. Di sore hari airnya memantulkan cahaya jingga sang surya yang akan beristirahat setelah seharian menyinari bumi, merefleksikan kemolekan hamparan tebing batu yang menjulang gagah di sebelah selatan dan utara jembatan ini, Ruuuuuaaar Biasa.. !!


( Foto 10. Tebing batu di sebelah selatan jembatan )

( Foto 11. Tebing batu di sebelah utara jembatan, tampak dari bawah jembatan )

Jembatan Gantung Siluk ini, merupakan jembatan umum, siapa saja boleh melintas, namun bergantian, dan gratis tanpa ada retribusi. Keberadaan jembatan ini sangat membantu transportasi penduduk dari kedua desa. Bisa dibayangkan, apabila jembatan ini tidak ada, maka penduduk dari kedua desa yang bersebrangan ini harus memutar lebih jauh melewati jembatan jalan kabupaten yang berada di jalan penghubung Imogiri dengan Pantai Parangtritis.


( Foto 12. Salah satu pedagang yang menyebrang )

Jembatan ini juga memperlancar perekonomian rakyat kecil dan menengah dari kedua desa. Traffic jembatan ini paling padat pada pagi saat penduduk berangkat sekolah, bekerja, dan ke ladang. Dan sore hari saat penduduk kembali dari ladang.

Pada saat saya membonceng mas saya, untuk menyebrangi jembatan ini dengan sepeda motor, jantung saya benar - benar ingin lepas, bagaimana tidak, saat melintasi tengah - tengah jembatan, jembatan tersebut berayun. Saya benar - benar berfikir yang tidak - tidak, bagaimana kalau tiba - tiba putus, Astagfirullah... Saya memang phobia ketinggian.
Padahal para ABG yang kebetulan banyak yang mengunjungi jembatan tersebut, dengan lincah menaiki sepeda motornya wara - wiri melintasi jembatan. Hah... sepertinya saya memang harus ingat umur.


( Foto 13. Saya berdiri kaku di tengah jembatan yang bergoyang goyang )

Lokasi jembatan ini sering digunakan penduduk sekitar maupun wisatawan untuk sekedar menikmati alam dengan duduk - duduk di pinggir Sungai Oyo ( tentu saat tidak pasang ), berfoto narsis di jembatan, maupun pembuatan foto prewedding.


Nah... Setelah puas mengagumi alam, mengabadikan beberapa foto untuk kenang - kenangan, turun dan merasakan pasir serta air Sungai Oyo, uji mental saya dengan menyebrangi jembatan dengan berjalan maupun naik sepeda motor. Saya dan mas saya memutuskan pulang, karena hari sudah petang. Kami tidak lagi mengulangi kesalahan jalur kami, kami-pun menyusuri jalan yang benar untuk kembali ke Jogja,, :-) :-) saya tidak membayangkan kalau saat matahari sudah tak ada seperti sore itu, dan saya harus menyusuri jalan desa yang berliku dan gelap serta bergeronjal, :'( :'(...... But Overall, saya benar - benar tidak menyesal harus kesasar... :-D :-D


Saat menyusuri jalan aspal untuk pulang, kami masih sempat untuk menikmati hamparan tebing batu di sisi utara kami, dan Sungai Oyo di sisi selatan kami, lengkap dengan lembayung jingga.


( Foto 14. Tebing batu menjulang di sisi utara jalan,
pemandangan ini mengikuti hampir separo perjalanan pulang saya )

( Foto 15. Tebing batu di atas tempat hunian warga )

( Foto 16. Di sepanjang perjalanan pulang, sisi utara juga dihiasi Terasering )

( Foto 17. Akses jalan menuju dan pulang ke dan dari Jembatan Gantung Siluk, yang berawal dan berakhir di SMP N 2 Imogiri :-P )

Selasa, 20 Maret 2012

Kali Kuning Dulu & Sekarang

Kali Kuning merupakan salah satu alternatif tujuan wisata di Yogyakarta. Kali Kuning yang merupakan tempat wisata pegunungan menawarkan berbagai keindahan alam pegunungan.

Kali kuning sendiri terletak di bawah Gunung Merapi atau di sebelah timur objek wisata Kaliurang yang sangat terkenal dengan kesejukan, keasrian, dan kedamaian alamnya.

Kali Kuning merupakan Camping Ground alam pegunungan yang terletak di lereng selatan Gunung Merapi, masuk di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Pengelolaannya masuk dalam Manajemen Taman Nasional Gunung Merapi
( TNGM ) beserta objek wisata yang lain.

Untuk menuju objek wisata Kali Kuning, akses jalannya mudah dan lancar, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi, baik sepeda motor/ mobil dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam dari pusat kota Yogyakarta.

Selain itu, lokasi dapat dicapai dengan kendaraan umum, berupa bus dari Terminal Giwangan, Yogyakarta langsung menuju Kaliurang, Stooop... dan turun di Pakem, kemudian transfer dengan kendaraan publik setempat ( mini bus ) berwarna kuning menuju Kali Kuning.

Kawasan Kali Kuning sering digunakan untuk berbagai kegiatan, ada yang sekedar refreshing, melepas penat di akhir minggu setelah bekerja/ menuntut ilmu, ajang temu kangen bersama teman - teman lama kemudian melakukan berbagai games serta foto - foto, mengabadikan ikrar suci seperti pengambilan foto prewedding, tempat seru untuk berpetualang rombongan anak - anak sekolah, mengisi kegiatan saat Pramuka, piknik keluarga, bahkan banyak yang memadu kasih (yang terakhir jangan ditiru yaa ).


Inilah beberapa pemandangan indah dan menakjubkan 
yang dapat anda nikmati 
di kawasan objek wisata Kali Kuning, Yogyakarta.

( Foto. 1 Kawasan Pepohonan Pinus )

( Foto. 2 Kawasan Pepohonan Pinus )

( Foto. 3 Menuruni Banyak Anak Tangga Menuju Kali Kuning ) 

Kawasan dibawah ini dapat anda jumpai jika anda menuruni banyak anak tangga pada Foto. 3 diatas, inilah Kali Kuning yang bukannya berisi air, namun hamparan pasir dan ada beberapa bebatuan. Tempat ini sering digunakan oleh rombongan untuk melakukan berbagai Games, biasanya rombongan pramuka dari SD, rombongan anak muda yang mengadakan reuni, dll.

( Foto. 4 Kawasan Bawah Kali Kuning )

Di kawasan bawah Kali Kuning ini juga terdapat "Kali" kecil dan ada dam-nya. Foto ini saya ambil pada tahun 2008 ( kalo tidak 2007, hehehe :-) Lupa - Lupa ingat ) 
saat temu kangen dengan teman - teman eks-3B SMP N 9 Yogyakarta.

( Foto. 5 "kali" kecil dan DAM )

Ini adalah koleksi foto pribadi saya, saat bersama rombongan satu kelas mengadakan refreshing alam ke Kali Kuning dan berfoto ria sebagai kenangan di bangku Sekolah Tinggi.

Foto - foto ini diambil sekitar Bulan Maret 2009, sudah genap 3 tahun yang lalu, saat saya masih semester 6.

Lihatlah betapa hijau, asri, sejuk, dan benar - benar kawasan yang dapat digunakan untuk mengukir hampir semua moment kehidupan

( Foto. 6 Kawasan Atas/ Pepohonan Pinus )

( Foto. 7 Kawasan Pepohonan Pinus )

( Foto. 8 Kawasan Pepohonan Pinus )

Setelah kejadian Erupsi Merapi Tahun 2010 lalu, kawasan sekitar Gunung Merapi termasuk Kali Kuning hancur terhantam awan panas hasil muntahan Gunung Merapi. Musibah ini sangat dahsyat, lebih dahsyat daripada Letusan Gunung Merapi lebih dari 100 tahun yang lalu atau tepatnya pada tahun 1872.

Dan lihatlah betapa objek wisata yang dahulu begitu sejuk, hijau, asri, dan damai, kini berubah menjadi suram dan kelabu penuh dengan kepedihan hanya dalam sekejap mata, sekali hantaman saja.

Berikut ada beberapa koleksi foto yang saya ambil.
Betapa mengerikan.

( Foto. 9 Akses Jembatan Ke Kali Kuning yang Jebol )

( Foto. 10 Kawasan Pepohonan Pinus )

( Foto. 11 Kawasan Pepohonan Pinus )

( Foto. 12 Kawasan Kali Kuning Atas )


( Foto. 13 Bukan Refreshing tapi Bad Feeling )



Betapa sangat memilukan bukan, saat Allah berkehendak, maka Kun Faya Kun. Kita manusia hanyalah setitik pasir di padang pasir yang sangat luas. Saat berkunjung kesana Bulan Oktober Tahun 2011 di atas 
( tepat 1 tahun pasca eruspsi ). Suasana masih terasa mencekam. Objek wisata yang dahulu digunakan untuk refreshing, penuh tawa, canda, tempat banyak orang meraup rejeki, memadu kasih, membuat foto kenangan ( reuni, prewedding, dll ) kini diliputi kesunyian, abu - abu, suram, tangisan, dan kepiluan mendalam.
Saya berkunjung bersama mas saya yang kebetulan six sense-nya lumayan terasah, ia mengatakan benyak mendengar suara rintihan orang minta tolong, laki - laki dan perempuan, besar dan kecil.
Ya Allah, Yaa Rabbi ampuni keserakahan kami, jangan lagi kau goncang bumi Yogya-ku tercinta, amin..

( Foto. 14 Foto Angkasa Dampak Erupsi Merapi 2010 dari Museum Gunung Merapi )